Selasa, Maret 13

Hening

Aku selalu senang menikmati episode hening dalam hidupku.  Suka, sangat suka. Jika ditanya alasannya kenapa, sebenarnya, aku lebih suka menjawabnya dengan entah. Bukan karena tak tahu, tapi memang sulit untuk digambarkan. Tapi tak ada salahnya juga untuk mencoba kan?

Buatku, hening tak harus malam. Walaupun malam sudah ditunjuk Tuhan untuk memfasilitasi hening yang terbaik di sepertiga akhirnya. Hening juga tak melulu sepi. Walaupun sepi sudah mengakuisisi hening agar identik dengannya. Maka, jika tidak berjodoh dengan sepi karena waktu yang tak sepakat, atau karena kondisi yang tak memihak, hening itu masih bisa dicari. Jika tak berhasil menaklukan malam, karena lelah yang tak tertanggungkan, atau mata yang sudah tak bisa berkompromi, hening itu juga masih bisa ditemukan. Ini, karena hening tak selalu memihak malam, juga tak harus membersamai sepi. Karena itu, banyak yang setia menemani malam tapi belum beruntung mendapatkan hening. Banyak yang berteman dengan sepi, tapi tak kunjung dekat dengan hening.

Hening, adalah jeda. Jeda untuk mengenal diri sendiri, juga untuk mengenal-Nya lebih dekat. Karena siapa yang tak mengenal dirinya, akan sulit untuk mengenal Tuhan-nya. Hening juga bisa digunakan untuk mengenal kemanusiaan, beserta dinamika hidup dan kehidupan yang melekatinya. Jika punya sedikit jiwa nakal, sesekali boleh juga menggunakan hening untuk mengintip, mengintip kepribadian dan pengalaman orang lain. Tak lain, untuk belajar dari kelebihan dan kekurangan mereka. Karena bisa jadi, hening itu bisa mengusir iri, yang selalu menggoda jika kita melihat kelebihan orang lain. Atau minimal bisa membungkam sombong, yang selalu merayu jika kita berjumpa dengan persimpangan antara kelebihan diri sendiri dan kekurangan orang lain.

Hening, bisa juga digunakan untuk mengumpulkan oksigen, agar bisa bernafas dengan segar di sela lelah. Agar bisa bergerak lebih cepat di kala sibuk. Agar bisa menguapi penat yang bisa kapan saja menggoda. Jika sedang bernasib baik,hening bisa menghasilkan air mata yang menghapus titik-titik noda dalam hati agar tak berbiak layaknya virus, yang akan menggerogoti kebaikan sedikit demi sedikit, lantas menggantinya dengan penyakit hati yang mematikan.Tapi terkadang, hening juga tak menghasilkan apa-apa, selain ketenangan yang tak terdefinisi.

Hening, adalah jejak-jejak pencarian. Untuk mendalami lautan syukur yang baru sekedar terucap manis dari mulut. Juga untuk menjelajahi samudera sabar, yang masih sekedar menjadi penghibur lara yang begitu mudah ditaklukan kesah. Hening, adalah waktu untuk merangkai mimpi, membuat harapan yang menghidupkan, juga eksperimen ide untuk menggapainya. Jika gagal, gunakan saja hening untuk mengevaluasinya. Bisa jadi, hening adalah senyuman sekilas tentang kebodohan kita, yang disusul dengan bara semengat untuk memperbaikinya.

Hening, adalah romantisme antara kita dengan Tuhan. Romantisme untuk bertanya dan menjawab rahasia-rahasia Tuhan tentang kenyataan yang menimpa kita. Monolog, tapi tetap mesra. Jika cinta kita kuat, Tuhan akan memberitahukan rahasiaNya. Bisa jadi melalui pikiran selintas, atau dengan isyarat berupa peristiwa yang terjadi di hadapan mata. Bisa jadi juga itu berupa kejutan dari Tuhan, dan kita tidak menyadarinya kalau itu kejutan cinta dari Tuhan. Bukankah cinta tak harus selalu diketahui. Karenanya, hening, adalah cinta rahasia antara kita dengan kerabat dan sahabat. Bisa jadi cinta itu berupa doa tulus yang selalu terucap, yang menjadi rahasia kita dengan Tuhan saja. Bisa juga cinta itu berbentuk celah waktu untuk memikirkan mereka, jika ada kesempatan, cinta itu bisa saja berwujud hadiah dan kejutan untuk mereka.

Itulah, kenapa aku menyukai episode hening. Mungkin kamu punya pandangan lain tentang hening. Dan itu mungkin lebih baik dari yang aku gambarkan. Seperti yang kujelaskan di atas, aku kesulitan untuk menggambarkannya. Tapi semoga bisa diambil hikmahnya. Sampai jumpa pada tulisan berikutnya.


***

Disekanya air mata yang menetes perlahan dengan jilbab lebarnya. Sore itu, kampus memang sudah sepi. Sehingga tidak seorangpun yang melihatnya menangis. Tapi hatinya masih gerimis, artikel tanpa judul yang baru saja dibacanya di mading mushola, telah membuatnya sadar. Bahwa, selama ini dirinya terjebak pada rutinitas. Kuliah yang silih berganti, agenda organisasi yang menumpuk, ibadah yang hanya mengikatnya pada sekedar targetan penggugur kewajiban. Sedangkan jiwanya begitu lelah, begitu kering.

“Aku harus segera menemukan dan menikmati episode heningku,”
lirihnya dalam hati.

By: Nazrul Anwar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar