Senin, Maret 12

Sunset Bersama Rosie

 

Sunset Bersama Rosie adalah sebuah novel karya Tere Liye yang terbaru, dan yang sebelumnya keluar adalah Aku, Kau dan Sepucuk Angpao Merah.
Dalam novel ini,,, bercerita tentang Rosie, Tegar, Nathan dan kelima anak dari Rosie dan Nathan yaitu Anggrek, Sakura, Jasmine dan Lili. Alur cerita novel ini sederhana, tetapi pengunaan kata-katalah yang membuat novel ini luar biasa menurut saya, Dengan pemahaman-pemahaman yang berbeda dan kata-kata yang filosofis yang mengajarkan qta untuk memiliki sudut pandang yang berbeda dalam menghadapi masalah-masalah yang terjadi dalam kehidupan qta sehari-hari.
Berikut ini beberapa kutipan kalimat filosofis yang saya suka dan maknanya yang begitu indah :

Ada banyak cara menikmati sepotong kehidupan saat kalian sedang tertikam belati sedih. Salah-satunya dengan menerjemahkan banyak hal yang menghiasi dunia dengan cara tak lazim. Saat melihat gumpalan awan di angkasa. Saat menyimak wajah-wajah lelah pulang kerja. Saat menyimak tampias air yang membuat bekas di langit-langit kamar. Dengan pemahaman secara berbeda maka kalian akan merasakan sesuatu yang berbeda pula. Memberikan kebahagiaan yang utuh – yang jarang disadari – atas makna detik demi detik kehidupan.”

Bagiku waktu selalu pagi. Di antara potongan dua puluh empat jam sehari, bagiku pagi adalah waktu paling indah. Ketika janji-janji baru muncul seiring embun menggelayut di ujung dedaunan. Ketika harapan-harapan baru merekah bersama kabut yang mengambang di persawahan hingga jauh di kaki pegunungan. Pagi, berarti satu hari yang melelahkan telah terlampaui lagi. pagi, berarti satu malam dengan mimpi-mimpi yang menyesakkan terlewati lagi.” 

"aku tahu apa artinya sebuah kesedihan, aku pernah mengalaminya. percuma berdiri disini sepanjang hari, sepanjang tahun, tidak akan membantu. Tidak ada yang bisa membantu selain waktu."

"Bagi seorang gadis, menyimpan perasaan cinta sebesar itu justru menjadi energi yang hebat buat siapa saja yang beruntung menjadi pasangannya."

"Dua puluh tahun dari sekarang kau akan lebih menyesal atas apa-apa yang tidak pernah kau kerjakan dibanding atas apa-apa yang kau kerjakan."  

"Percaya atau tidak, membayangkan seperti apa hebatnya perasaan itu akan jauh lebih hebat dibandingkan kalau aku benar-benar tiba di sana. Semua itu akan membuat kenangan, bayangan dan pengharapan itu tetap istimewa. Tetap hebat seperti yang kubayangkan. Apakah dunia memang begitu? kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu ingin memilikinya."

"Kalian berdualah yang justru tidak pernah berani membuat kesempatan itu. betapa tidak beruntungnya. kalian menyerahkan sepenuhnya kesempatn itu kepada suratan nasib."

"Mawar akan tumbuh di tegarnya karang jika Kau menghendakinya"

  

Sabtu, Maret 10

Ada banyak cara menikmati sepotong kehidupan saat kalian sedang tertikam belati sedih. 
Salah satunya dengan menerjemahkan bayak hal yang menghiasi dunia dengan cara tak lazim. 
Saat melihat gumpalan awan di angkasa. 
Saat menyimak wajah-wajah lelah pulang kerja.
Saat menyimak tampias air yang membuat bekas di langit-langit kamar.
Dengan pemahaman secara berbeda pula, maka kalian akan merasakan sesuatu yang berbeda pula. 
Memberikan kebahagiaan utuh-yang jarang disadari-atas makna detik demi detik kehidupan.
Sunset bersama Rosie _Tere Liye_

Jumat, Maret 9

Menata Hati

Penari remaja itu langsung menghentikan gerakannya. Menuruti permintaan dewan juri yang memang memintanya berhenti, padahal baru dua menit ia beraksi. Semestinya, semua kontestan diberikan waktu lima menit. Karena merasa gagal, penari itu langsung pulang meninggalkan perlombaan, sekaligus meninggalkan dunia tari yang selama ini disenanginya. Dua puluh tahun kemudian, takdir mempertemukan [mantan] penari itu dengan dewan juri yang dulu menghentikan tariannya, padahal waktunya masih tersisa. Kesal dengan kehidupan yang selama ini dijalaninya, [mantan] penari itupun mengungkapkan kekecewaannya.

"Jujur ya Bu, sampai sekarang saya masih kecewa dengan perlombaan itu, termasuk dengan ibu yang menyuruh saya berhenti di tengah penampilan saya. Padahal, sudah berbulan-bulan saya berlatih untuk mempersiapkan lomba itu. Saya pikir, perlombaan itu akan membawa saya menjadi penari yang hebat. Tapi malah sebaliknya, karena perlombaan itu saya memutuskan untuk berhenti menari."

"Loh, justru saya yang kecewa terhadap kamu. Saya menyuruh kamu berhenti, karena saya sudah tahu kalau kamu itu bagus. Saya tidak perlu berlama-lama untuk menilai kamu. Dan kamu adalah yang terbaik dari semua kontestan. Sayangnya, ketika nama kamu dipanggil untuk babak terakhir, yang saya yakin kamu akan menjadi pemenangnya, kamu sudah tidak ada di tempat."

***

Dan dengan sangat menyesal, harus aku akui, kisah cinta dan persahabatanku pernah mengalami nasib yang tak jauh berbeda dengan penari itu. Untungnya, aku hanya menghabiskan dua bulan dalam kekecewaan. Tidak sampai dua puluh tahun terjebak dalam rasa sesak yang menyakitkan. Waktu itu, aku memang belum bisa menerima kenyataan pahit itu. Ketika kamu dengan sangat bahagia cerita tentang perempuan pilihanmu. Dan ketika aku tahu bahwa perempuan itu adalah sahabat terbaikku, sahabat yang selama ini menguatkan aku, dan sahabat yang tak mungkin menyakitiku. Tentu saja dia tidak tahu, kalau kamu adalah laki-laki yang sering aku ceritakan kepadanya. Aku bahkan tak pernah menyebut namamu. Dan sahabatku itu juga bukan orang yang mau repot-repot untuk mencampuri urusan orang lain terlalu dalam, termasuk sahabatnya sendiri. Ia hanya terlibat ketika diminta, dan membantu jika dibutuhkan. Jadi, ia memang tak layak untuk disalahkan. Aku juga memutuskan untuk tidak cerita kepadamu. Biarlah semuanya berjalan alami, sampai Tuhan menunjukkan dengan caranya sendiri, jikapun kalian harus sama-sama tahu.

Dan aku? Memilih menjauh dari kehidupan kalian. Sibuk berkutat dengan sesaknya perasaan sendiri. Sampai pada hari ini, akhirnya aku bisa keluar dari jebakan perasaan, yang dua bulan belakangan menyekapku dengan kegelisahan. Ya, hari ini aku memutuskan untuk bertemu dengan kalian. Tepatnya membuat janji dengan kamu dan perempuan pilihanmu. Hari ini aku ingin berdamai dengan kalian. Ah, bukan. Tepatnya dengan perasaanku sendiri.

Perjalanan hati ini, membuatku lebih menghargai hidup. Menjaga baik-baik apa yang sudah dimiliki. Memberikan pemahaman bahwa seharusnya, kebahagiaan memang tidak semata menjadi tujuan hidup. Toh kebahagiaan itu selalu ada di sekitar kita. Walaupun bukan berasal dari kita, kita tetep bisa merasakannya, jika kita mau membuka hati. Dan kebersamaan, memang selalu menjadi kekuatan dan kenangan tersendiri. Hanya saja, kebersamaan itu tidak selalu denganmu atau dengan kalian. Tapi juga bisa dengannya atau dengan mereka. Mungkin berbeda dalam rasa, tapi tak boleh berbeda dalam apa yang namanya esensi; bahwa hidup akan tetap berjalan di tempat manapun, dengan siapapun, tapi tidak sampai kapanpun.

Hari ini, aku ingin memeluk sahabatku, meminta maaf atas keegoisanku, dan bilang betapa aku bahagia memiliki sahabat sepertinya, betapa aku bahagia atas kebahagiannya yang bisa hidup bersama laki-laki sebaik kamu. Tulus. Karena itulah yang benar-benar aku rasakan. Ah, betapa indahnya menerima. Betapa bebasnya melepaskan. Betapa damainya memaafkan. Betapa leganya ketika kita tak lagi berharap. Betapa mudahnya bahagia, ketika kita sudah tulus untuk berbahagia dengan kebahagiaan orang lain. Dan betapa kurang-ajarnya kalian, karena sudah berpura-pura sedemikian rupa.

***

Adegan berpelukan itu memang ada. Aku memeluk sahabatku, mengatakan apa yang sudah kurencanakan sebelumnya. Kami saling menangis haru. Kamu hanya diam menonton. Adegan berubah seketika, manakala kalian tertawa. Dan aku mulai mencium ketidakberesan menyelimuti kita.

“Aaaaaarggghhh..” aku hanya teriak histeris, langsung mengambil bantal sofa dan memukul-mukulkannya kepada sahabatku sampai puas, sampai dia minta ampun sambil masih tetap tertawa dan bilang kalau kamulah ‘penjahat’ yang sebenarnya. Yang menyuruhnya berpura-pura untuk menjadi perempuan pilihan kamu. Dan dengan seenaknya sahabatku itu bilang, ia setuju demi kebaikan aku. Pandanganku langsung menoleh kepada kamu, meminta pertanggungjawaban atas perasaan yang merasa dipermainkan. Sementara sahabatku, yang baru bebas dari ‘siksaan bantal’ langsung kabur ke belakang. Bukan kabur sebenarnya, ia tak mengganggu.

***

“Maaf.”
“Aku butuh penjelasan, bukan butuh maaf” jawabku datar dan seenaknya kamu tersenyum

"Aku mau ketika nanti kita sudah saling memiliki, kita juga sudah siap untuk saling kehilangan. Karena sebenarnya, kita tak pernah memiliki bukan? Segalanya adalah titipan yang harus dijaga, dipertanggungjawabkan, dan terkadang diambil dengan tiba-tiba. Termasuk kamu, jika Tuhan menitipkan kamu kepadaku dan sebaliknya. Aku mau ikatan kita adalah ikatan yang membebaskan, bukan ikatan yang saling memberatkan apalagi saling mengekang. Aku mau ikatan kita adalah ikatan yang saling menguatkan dan melengkapi, bukan ikatan saling ketergantungan yang membuat satu orang diantara kita jadi lumpuh ketika tak ada yang satunya. Dan untuk itu semua, kita harus siap dan rela untuk kehilangan. Seperti kamu sudah merelakan aku, juga sepertiku dulu aku sempat merelakanmu, ketika kamu belum siap untuk hidup bersamku.”

Perjalanan hati yang belakangan ini aku lalui sangat cukup untuk mengerti penjelasan kamu. Dan jujur, harus aku akui; aku sepakat dengan kamu, dan aku juga berterimakasih kepada kamu. Sayangnya, aku masih malu buat mengakuinya. Nanti-nanti sajalah. Malah, jadi pertanyaan aneh yang keluar dari mulutku.

“Kenapa kamu tidak memilih sahabatku itu saja, dia jauh lebih baik daaripada aku bukan?”

"Jujur ya, sahabatmu itu memang jauh lebih baik daripada kamu. Bahkan mungkin jauh lebih sempurna untuk dijadikan pasangan hidup." Aku tertunduk, itu memang benar. Dan kebenaran lainnya, perempuan manapun tidak suka kekurangannya dibanding-bandingkan dengan kelebihan perempuan lainnya. Termasuk dengan sahabatnya sendiri. Kamu harus tahu itu.

"Sayangnya, aku menginginkan pasangan yang tepat, bukan pasangan yang sempurna. Dan kamu jauh lebih tepat untuk aku daripada sahabatmu atau yang lainnya. Biarlah kekurangan dan kelebihan kita masing-masing yang nanti akan saling menyempurnakan." aku masih menunduk, lebih dalam kali ini, antara terharu dan menyesal sudah berpikir yang tidak-tidak. Dan seketika, perasaanku kepadamu muncul kembali, perasaan yang sudah kupendam jauh-jauh. Perasaan yang sudah aku buang entah kemana. Perasaan yang tak lagi aku harapkan; rasa cinta yang sama, tapi dengan pemahaman yang baru. Kalau ingin tahu seperti apa, tanya saja pada air mataku yang mulai mengalir.

 ByNazrul Anwar

Cermin

“Familiar deh sama sesuatu yang bernama dewasa. Itu apa sih? Penting emang yaa? Bosen, ketika banyak orang mengatakan, ‘kamu dewasa dooong.’ Emang dewasa tuh kaya gimana sih? Dewasa itu mesti berpura-pura nerima sesuatu yang kita enggak suka? Dewasa itu ketika kita berubah jadi manusia munafik? Bilang iya, tapi hatinya berontak? Dewasa itu berarti bebas menilai orang seenaknya, gitu? Kalo seperti itu bentuknya, lebih baik aku enggak pernah dewasa.” *

Hanya lengkung senyum dan wajah simpati yang bisa aku berikan untuk sahabatku itu, atas ceritanya yang berapi-api tentang apa yang sedang dialaminya. Dituntut dewasa oleh lingkungannya. Diharapkan dewasa oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi menurutnya, mereka yang memintanya untuk bersikap dewasa itu juga belum memiliki kedewasaan itu sendiri. Aduh, ribet.

Aku tidak sepenuhnya sepakat dengan apa yang dikatakannnya. Tapi aku memilih diam mendengarkannya. Ketidaksepakatan tidak harus diungkapkan dengan tergesa-gesa bukan? Selayaknya, ketidaksepakatan diungkapkan untuk saling meluruskan, bukan untuk menunjukan siapa yang benar siapa yang salah, atau menunjukan siapa yang lebih tahu daripada siapa. Aku tidak sepakat dengan apa yang dikatakannya, tapi belum tentu aku yang benar. Bisa jadi memang dia yang benar. Tapi siapapun yang benar dan siapapun yang salah, ketidaksepakatan harus menyediakan ruang untuk saling meluruskan. Hanya saja, saat ini sahabatku itu tidak membutuhkan ruang seperti itu. Ia membutuhkan ruang lain, ruang untuk didengarkan.

“Udah keselnya? Mau makan apa mau tidur?” tanyaku melihat emosinya yang mulai reda, menawarkan kebiasaannya kalau lagi kesel.

“Mau makan terus tidur.”
“Jiaah, enggak tahu malu ya, di rumah orang minta makan sama tidur.” Aku mengajaknya bercanda
“Biarin. Lagian kamu yang nawarin ya, bukan aku yang minta.” Jawabnya asal, sudah bisa tersenyum

***

Selagi sahabatku tidur, setelah makan tentunya, aku mencoba mengingat kembali tentang apa yang diceritakannya. Hmm, dewasa? Aku tentu saja tak layak untuk menyebut diriku sendiri dewasa, untuk beberapa hal mungkin iya. Tapi untuk banyak hal lain, aku sendiri masih jauh dari kata itu. Dan tentu saja aku belum layak untuk menasihatinya tentang itu. Aku putuskan untuk membantu dalam hal lainnya, bukan tentang dewasa yang masih sangat sensitif di pendengarannya. Tapi aku tetap tertarik untuk membawa pikiranku melanglangbuana menelesuri tiga suku kata itu; de-wa-sa.

Aku sendiri, tak terlalu mengerti tentang bagaimana sebenarnya sisi dewasa, yang proporsinya masih sangat kecil itu muncul di dalam diri. Yang aku ingat, semenjak aku masuk sekolah menengah atas, ada perubahan dari perlakuan mama terhadapku. Tingkat kecerewetan mama turun drastis. Bahkan yang menurutku paling lucu adalah cara beliau marah.

“Mama lagi marah nih sama kamu.”

Awalnya aku bingung, marah kok bilang-bilang. Marah kan harusnya spontan. Ya marah aja, dengan bentak-bentak misalkan, atau cerewet kemana-mana, atau ekspresi lain yang menandakan sedang marah. Lah ini mama, marah malah curhat. Mama ini lagi begini begitu loh, dan bla-bla-bla nasihat lainnya. Terus mama akan mendiamkanku seharian. Memberikan waktu kepadaku untuk memikirkan kesalahanku apa dan bagaimana cara memperbaikinya. Besoknya aku tinggal minta maaf, melaporkan hasil perenunganku tentang kesalahan itu dan bagaimana nanti aku memperbaikinya. Lalu mama tersenyum manis sebagai tanda perdamaian, artinya mama enggak marah lagi.

Yang lebih lucu lagi, kalau mama lagi lupa kalau hari itu dia sedang marah sama aku, terus ngajak ngomong duluan. Biasanya mama jadi ngomong sama diri sendiri. “Eh, mama gimana sih. Kan mama lagi marah.” Terus mama menjauhi aku. Kalau akunya lagi kesel banget, enggak terima dengan marahnya mama, merasa kalau aku yang bener mama yang salah; diam-diaman itu berlangusng sampai esok harinya. Aku enggak mau minta maaf dan mendatangi mama. Kalau sudah begitu, di hari ketiga mama akan mengalah, terus mendatangiku dan meminta maaf duluan. Aku yang giliran tersenyum duluan, tanda berdamai.

Belakangan aku baru sadar, kalau itu adalah salah sata cara mama mendidikku agar bisa dewasa. Mendidik dengan perbuatan, dengan keteladanan, dengan sikap dewasa itu sendiri. Bukan dengan kata-kata ‘kamu harusnya dewasa’. Bukan juga dengan tuntutan seharusnya kamu begini atau seharsnya kamu begitu yang terasa memberatkan. Dan sampai sekarang, pemahaman itu masih melekat dalam diriku, dan sedikit banyak mempengaruhi untuk bersikap ke orang lain. Ibaratnya, mama itu kayak cermin, tempat aku berkaca tentang kekuranganku. Tempatku mencari refleksi tentang kebaikan yang harus dilakukan.

***

“Hey,,” tiba-tiba sahabatku itu mengagetkanku dari belakang, aku masih duduk di meja belajarku
“Udah bangun toh, gimana udah lebih baik?”
“Lumayan lah, tadi lagi ngelamunin apa sih? Serius amat?”
“Gpp. Eh, temenin aku ngaca yuk..” aku menariknya tanpa persetujuan di meja rias kamar, ada cermin yang cukup besar disana
“Ih, ganjen deh, ngaca aja minta ditemenin.”
“Gpp. Sekali-kali.” Kami sudah ada di hadapan cermin
“Astaga, muka aku lecek banget ya, berantakan..” dia kaget melihat mukanya yang bangun tidur, ditambah lagi banyak pikiran
“Hahaha, emang...”
“Kurang ajar, hahaa...”
“Eh, sadar atau enggak kita butuh banget cermin yaa?”
“Iya lah, mana ada cewek yang enggak butuh cermin. Bahkan sebagian besar cewek selalu bawa cermin kecil di tasnya. Kamu juga kan?”
“Iya,  hehe... Buat tampil oke, ngeliat kekurangan-kekurangan apa aja yang terjadi di area wajah. Terus memperbaikinya dengan make-up yang dibawa.”
“Iya, bener.”

“Maaf ya, kalau aku ikut campur sama masalah kamu, tapi kalau aku biasanya mengibaratkan kritakan orang lain, entah itu baik ataupun buruk, benar ataupun salah kayak cermin. Cermin di hadapan kita ini bisa ngeliat kekurangan wajah kita, kalau lagi kusut, bedaknya ketebalan, lipstiknya agak belepotan, dan sebagainya dan sterusnya. Karena cermin itu kita tahu, karena cermin itu jugalah kita mengerti apa yang harus diperbaiki, manaa yang harus dipoles. Sayangnya, cermin ini hanya bisa meihat kekurangan di area wajah, atau are fisik yang lainna. Tapi enggak bisa melihat kekurangan kita yang nonfisik, seperti keperibadian, sikap, karakter dan sejenisnya. Kita butuh cermin dalam bentuk lain untuk melihatnya. Untuk kemudian, memperbaiki apa yang kurang dari diri kita berdasarkan bayangan dari cermin itu. Dan menurutku itu enggak salah, ketika kita menjadikan orang lain sebagai cermin itu, malah bagus juga demi kebaikan kita kan?”

“Iya ya, kamu bener. Harusnya aku enggak terlalu berlebihan menanggapi kritikan atau permintaan teman-temanku itu. Btw, kamu kok baik banget sih sama aku? Padahal akunya suka nyebelin.”
“Soalnya aku udah tahu pintu surga itu dimana.”
“Dimana emang?”
 “Di setiap kebaikan yang kita lakukan.”
“Haha, mulai keluar deh ustadzahnya, Assalamualaikum ukhtii,,”
“Sial, haha ...”
“Hah, mana boleh salam dijawab dengan sial. Haha..”
“Iya, aku ralat, Waalikumsalam ...”
“Tapi makasih banget ya, buat semuanya ...” tiba-tiba ia memelukku

Memang, masih sulit sekali memberitahukan sahabatku itu tentang agama, tentang harus sholat lima waktu, juga tentang syurga dan neraka. Aku pernah membuat kesalahan dengan berkeinginan untuk mengubahnya menjadi lebih baik agar kita sama-sama bahagia. Dan ternyata itu menyakitkan, yang aku dapat hanya kekecewaan. Harusnya dari dulu aku memiliki keinginan untuk tetap berbahagia bersahabat dengannya, walaupun dia belum bisa berubah. Seperti saat ini.

By : Nazrul Anwar

Rabu, Maret 7

Road Show 8th Eagle Awards


Metro TV melalui program Eagle Awards memberikan sebuah media bagi anak-anak muda yang kreatif untuk kritis terhadap sebuah fakta peristiwa, terhadap sebuah masalah yang sedang terjadi di dalam masyarakat luas agar menjadi sebuah inspirasi perubahan. Sinergisitas antara Eagle Awards dan anak-anak muda menghasilkan cerita inspiratif dari berbagai sudut pandang yang unik dan tegas. Melalui Eagle Awards anak-anak muda diajak untuk peduli dan kritis terhadap keadaan disekitar mereka dan menjadikan mereka para sutradara documenter Indonesia. Dan melalui pemikiran anak-anak muda, Eagle Awards mencoba mengajak masyarakat untuk melihat berbagai potensi bangsa Indonesia yang ada dibalik banyaknya permasalahan yang sedang dihadapi. (Sumber Eagle Awards )

Dan IPB termasuk beruntung loh karena addtional dan sudah 3x Metro TV melakukan Road Show Eagle Awards di IPB,,sebenarnya Metro TV tahun ini hanya melakukan road show di Padang (Kampus Isi Padang Panjang), Palembang (Kampus UNSRI ) dan Makassar (Kampus Univ.Muhammadiyah)

Road Show 8th Eagle Awards di IPB akan dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2012 di Auditorium Andi Hakim Nasution. Yang tertarik dengan film dokumenter so daftar lah,,gampang banget dan it's FREE dengan Comitmen Fee sebesar 10.000 rupiah saja
dan hanya 300 peserta  alias TERBATAS

Caranya kamu kirim sms pendaftaran dengan cara:
Ketik: NAMA_NRP_DEPARTEMEN kirim ke no.08567677907
Atau mw tanya-tanya dulu tentang acaranya lebih lanjut,,kalian bisa sms ke CPnya
yaitu : Fia 085710299828 dan Ayy  08567677907
Tiket bisa diambil tanggal 14 Maret 2012 at @Student Center

 Acara ini merupakan rangkaian dari 5th Journalistic Fair 2012 Kementerian Komunikasi Informasi BEM KM IPB. Selain ada Eagle Awards, masih ada beberapa rangkaian kegiatan lainnya diantaranya IPB Blogging Days, Lomba Journalist (Presenter, video, fotograrfi dll) dan launching Sekolah Jurnalistik.
Saat ini Kementerian Komunikasi dan Informasi juga sedang membuka Open Requitment Panitia,, informasi lebih lanjut kmu bisa hubungi Fia 085710299828 atauCipta 08567890966.


Kamis, Maret 1

Secangkir Coklat Hangat

Ada denting antara genting kamar dan gerimis yang samar-samar terdengar sore ini, menemaniku menyelesaikan pekerjaan kantor yang terpaksa harus kubawa ke rumah karena deadline. Pekerjaan yang sebelumnya tak terbayangkan olehku, pekerjaan yang tak ada hubungannya dengan empat tahunku jatuh bangun mengejar sarjana, dan pekerjaan yang (jujur) aku sendiri masih belum tahu bisa menikmatinya ataupun tidak. Tapi kamarku, tiba-tiba menjadi cerah oleh senyuman perempuan dengan secangkir coklat hangatnya, setelah ketukan pintu lembut khasnya yang sembarangan aku jawab dengan kata ‘masuk’.

“Eh, Mama. Kenapa Ma?”
“Gpp, ini mama bawain coklat?”
“Wuih, asyik. Makasih ya, Ma.” Aku masih meniup-niup coklat yang panas 
“Iya. Masih belum beres ya kerjaannya?” Mama bertanya dengan senyumnya
“Masih banyak banget nih, Ma. Oh ya Ma, aku boleh tanya-tanya?” Tiba-tiba ada ide untuk mengobrol sejenak dengan mama, menghilangkan penat. Mama mulai duduk di tempat tidurku.
“Boleh, mau tanya apa emang?”    

“Ma, emang salah ya, kalau misalkan kita kerja enggak sesuai dengan bidang yang kita dalami ketika kuliah?”

"Mama juga dulu kuliahnya di jurusan apa, sekarang kerjanya di bidang apa. Enggak nyambung. Tapi kalau memang itu adalah sebuah kesalahan, mama minta maaf atas kesalahan yang mama buat. Yang pasti, sekarang mama bahagia dengan pilihan mama, menikmati apa yang mama kerjakan, dan seneng karena pekerjaan mama bisa memberikan banyak manfaat ke orang lain. Dan buat mama, itu sudah lebih dari sekedar cukup. Dulu emang suka kesel sih, kalau ada yang nyindir kok kerjaan mama enggak sesuai dengan bidangnya sih, kok begini sih, kok begitu sih.”

“Terus, dulu cara menghadapinya gimana, Ma?”

“Dengan menerima, Sayang. Bukan dengan mencari pembenaran dengan banyak alasan. Menerima kalau apa yang mereka katakan ada benarnya. Benar juga kan, ngapain mendalami suatu ilmu bertahun-tahun, tapi setelah lulus ilmunya enggak digunakan. Menerima kalau Mama juga ada salahnya. Masa, bertahun-tahun enggak bisa suka juga dengan apa yang mama pelajari. Menerima kalau Allah selalu punya rencana dan ketetapan yang terbaik akan kehidupan kita. Walaupun kadangkala ketetapan itu adalah apa yang bukan kita inginkan dan kita rencanakan. Menerima bahwa ternyata; kebahagiaan, ketentraman, ketenangan hati, jauh lebih berharga dari sekedar kesesuaian antara pekerjaan dan jurusan ketika kuliah, apalagi dari sekedar sindiran orang lain.”

“Hmmm, iya juga ya Ma, ngapain kita harus pusing dengan kata-katanya orang lain, padahal kita yang merasakan, kita juga yang menjalankan. Toh rezeki masing-masing kan sudah diatur ya, Ma.”

“Iya,  dan rezeki itu, bukan apa yang bisa kita nikmati secara fisik aja, Sayang. Bukan juga sekedar tentang penghasilan atau pendapatan. Buat mama, tubuh yang sehat, ilmu yang bermanfaat, punya suami yang memperlakukan mama dengan baik seperti papamu, punya anak secantik dan semenyenangkan kamu, adalah rezeki yang sangat luar biasa.” Aku tersenyum geli, bukan karena kata-kata mama, tapi karena tangan mama yang sudah menarik gemas kedua pipiku, aku segera menyelamatkan diri dengan menjauhkan mukaku dari jangkauan mama.

“Bisa aja kita kerja di perusahaan yang besar, dengan gaji yang besar juga, tapi kalau misalkan pekerjaan itu enggak kita nikmati, terus materi yng kita kumpulkan itu enggak bermanfaat kecuali untuk diri kita sendiri, bahkan materi itu malah semakin menjauhkan kita dengan Allah, bisa dikatakan rezeki kita itu sangat sedikit. Karena sejatinya, rezeki itu adalah sesuatu yang membuat kita semakin bersyukur dan semakin dekat sama Allah.”

“Idih, jawaban mama soleh banget, berasa pengajian nih. Siap, ustadzah.” Baru saja aku mau hormat, mama sudah melemparku dengan bantal. Lalu seperti biasa, kami saling tertawa. Selalu menyenangkan bercanda dengan mama.

“Lanjut lagi dong pengajiannya, Ma. Lagi butuh banyak petuah nih.” Aku tersenyum masih menggoda mama, mama udah males menanggapi sepertinya.

"Mama cerita aja deh. Dulu ya, di zaman rasul itu ada seorang kembang desa yang menikah dengan orang yang tampangnya biasa-biasa saja, pendek, gendut lagi. Suatu ketika, setelah pulang kerja, suaminya tak henti-henti memuji isterinya yang makin hari makin cantik saja. Ah, tentu saja, isteri yang baik akan selalu berusaha tampil secantik mungkin di hadapan suaminya. Menyambut suaminya dengan senyum dan perilaku terbaik sepulang kerja. Tiba-tiba isterinya itu bilang, kalau mereka adalah calon penghuni syurga. Suaminya itu masih bingung, kok bisa? Isterinya berbaik hati menjelaskan; imbalan orang yang bersyukur dan bersabar adalah syurga. Sementara, suaminya sudah bersyukur diberikan isteri seperti dirinya. Dan diapun sudah sangat bersabar diberikan suami seperti itu"

"Ha.. ha.. ha... " kali ini aku ngakak denger ceritanya Mama

"Eh, ketawanya enggak boleh berlebihan gitu, ah." mama mengingatkan, seperti biasa dengan nada dan ekspresi marah sayangnya.

"Habisnya lucu banget sih Ma, Ha.. ha..." aku masih bicara sambil menahan tawa

"Ih, inti ceritanya kan bukan tentang lucunya. Tapi tentang bagaimana kedua orang itu menghadapi rezeki yang Allah berikan kepada mereka, yang satu bersyukur diberikan isteri yang sebegitu cantiknya. Yang satunya lagi bersabar untuk menerima apa yang sudah Allah tetapkan untuknya. Dan rasa syukur dan sabar itu yang membuat mereka hidup berbahagia. Nah, begitulah seharusnya kita melihat rezeki, Sayang. Bukan tentang seberapa banyak yang kita dapatkan. Tapi tentang seberapa banyak yang kita syukuri, tentang seberapa besar penerimaan kita atas apa yang Allah beri, juga tentang sejauh mana hati kita merasa cukup.”

Seketika tawaku benar-benar berhenti. Agak canggung mengangkat secangkir coklat hangat yang tinggal setengahnya. Malu. Begitu banyak yang sudah Allah beri, tapi hatiku tak kunjung merasa cukup. Betapa banyak hal yang tidak aku minta, tapi Allah memberiku begitu saja. Dan aku sering sekali tak menyadarinya. Seperti secangkir coklat hangat ini misalnya, atau perempuan luar biasa yang sedang tersenyum manis di hadapanku ini. Mungkin mama memang benar, kalau ternyata, Allah jauh lebih sayang sama kita daripada diri kita sendiri.

by: Nazrul Anwar