Jumat, Maret 9

Cermin

“Familiar deh sama sesuatu yang bernama dewasa. Itu apa sih? Penting emang yaa? Bosen, ketika banyak orang mengatakan, ‘kamu dewasa dooong.’ Emang dewasa tuh kaya gimana sih? Dewasa itu mesti berpura-pura nerima sesuatu yang kita enggak suka? Dewasa itu ketika kita berubah jadi manusia munafik? Bilang iya, tapi hatinya berontak? Dewasa itu berarti bebas menilai orang seenaknya, gitu? Kalo seperti itu bentuknya, lebih baik aku enggak pernah dewasa.” *

Hanya lengkung senyum dan wajah simpati yang bisa aku berikan untuk sahabatku itu, atas ceritanya yang berapi-api tentang apa yang sedang dialaminya. Dituntut dewasa oleh lingkungannya. Diharapkan dewasa oleh orang-orang di sekitarnya. Tapi menurutnya, mereka yang memintanya untuk bersikap dewasa itu juga belum memiliki kedewasaan itu sendiri. Aduh, ribet.

Aku tidak sepenuhnya sepakat dengan apa yang dikatakannnya. Tapi aku memilih diam mendengarkannya. Ketidaksepakatan tidak harus diungkapkan dengan tergesa-gesa bukan? Selayaknya, ketidaksepakatan diungkapkan untuk saling meluruskan, bukan untuk menunjukan siapa yang benar siapa yang salah, atau menunjukan siapa yang lebih tahu daripada siapa. Aku tidak sepakat dengan apa yang dikatakannya, tapi belum tentu aku yang benar. Bisa jadi memang dia yang benar. Tapi siapapun yang benar dan siapapun yang salah, ketidaksepakatan harus menyediakan ruang untuk saling meluruskan. Hanya saja, saat ini sahabatku itu tidak membutuhkan ruang seperti itu. Ia membutuhkan ruang lain, ruang untuk didengarkan.

“Udah keselnya? Mau makan apa mau tidur?” tanyaku melihat emosinya yang mulai reda, menawarkan kebiasaannya kalau lagi kesel.

“Mau makan terus tidur.”
“Jiaah, enggak tahu malu ya, di rumah orang minta makan sama tidur.” Aku mengajaknya bercanda
“Biarin. Lagian kamu yang nawarin ya, bukan aku yang minta.” Jawabnya asal, sudah bisa tersenyum

***

Selagi sahabatku tidur, setelah makan tentunya, aku mencoba mengingat kembali tentang apa yang diceritakannya. Hmm, dewasa? Aku tentu saja tak layak untuk menyebut diriku sendiri dewasa, untuk beberapa hal mungkin iya. Tapi untuk banyak hal lain, aku sendiri masih jauh dari kata itu. Dan tentu saja aku belum layak untuk menasihatinya tentang itu. Aku putuskan untuk membantu dalam hal lainnya, bukan tentang dewasa yang masih sangat sensitif di pendengarannya. Tapi aku tetap tertarik untuk membawa pikiranku melanglangbuana menelesuri tiga suku kata itu; de-wa-sa.

Aku sendiri, tak terlalu mengerti tentang bagaimana sebenarnya sisi dewasa, yang proporsinya masih sangat kecil itu muncul di dalam diri. Yang aku ingat, semenjak aku masuk sekolah menengah atas, ada perubahan dari perlakuan mama terhadapku. Tingkat kecerewetan mama turun drastis. Bahkan yang menurutku paling lucu adalah cara beliau marah.

“Mama lagi marah nih sama kamu.”

Awalnya aku bingung, marah kok bilang-bilang. Marah kan harusnya spontan. Ya marah aja, dengan bentak-bentak misalkan, atau cerewet kemana-mana, atau ekspresi lain yang menandakan sedang marah. Lah ini mama, marah malah curhat. Mama ini lagi begini begitu loh, dan bla-bla-bla nasihat lainnya. Terus mama akan mendiamkanku seharian. Memberikan waktu kepadaku untuk memikirkan kesalahanku apa dan bagaimana cara memperbaikinya. Besoknya aku tinggal minta maaf, melaporkan hasil perenunganku tentang kesalahan itu dan bagaimana nanti aku memperbaikinya. Lalu mama tersenyum manis sebagai tanda perdamaian, artinya mama enggak marah lagi.

Yang lebih lucu lagi, kalau mama lagi lupa kalau hari itu dia sedang marah sama aku, terus ngajak ngomong duluan. Biasanya mama jadi ngomong sama diri sendiri. “Eh, mama gimana sih. Kan mama lagi marah.” Terus mama menjauhi aku. Kalau akunya lagi kesel banget, enggak terima dengan marahnya mama, merasa kalau aku yang bener mama yang salah; diam-diaman itu berlangusng sampai esok harinya. Aku enggak mau minta maaf dan mendatangi mama. Kalau sudah begitu, di hari ketiga mama akan mengalah, terus mendatangiku dan meminta maaf duluan. Aku yang giliran tersenyum duluan, tanda berdamai.

Belakangan aku baru sadar, kalau itu adalah salah sata cara mama mendidikku agar bisa dewasa. Mendidik dengan perbuatan, dengan keteladanan, dengan sikap dewasa itu sendiri. Bukan dengan kata-kata ‘kamu harusnya dewasa’. Bukan juga dengan tuntutan seharusnya kamu begini atau seharsnya kamu begitu yang terasa memberatkan. Dan sampai sekarang, pemahaman itu masih melekat dalam diriku, dan sedikit banyak mempengaruhi untuk bersikap ke orang lain. Ibaratnya, mama itu kayak cermin, tempat aku berkaca tentang kekuranganku. Tempatku mencari refleksi tentang kebaikan yang harus dilakukan.

***

“Hey,,” tiba-tiba sahabatku itu mengagetkanku dari belakang, aku masih duduk di meja belajarku
“Udah bangun toh, gimana udah lebih baik?”
“Lumayan lah, tadi lagi ngelamunin apa sih? Serius amat?”
“Gpp. Eh, temenin aku ngaca yuk..” aku menariknya tanpa persetujuan di meja rias kamar, ada cermin yang cukup besar disana
“Ih, ganjen deh, ngaca aja minta ditemenin.”
“Gpp. Sekali-kali.” Kami sudah ada di hadapan cermin
“Astaga, muka aku lecek banget ya, berantakan..” dia kaget melihat mukanya yang bangun tidur, ditambah lagi banyak pikiran
“Hahaha, emang...”
“Kurang ajar, hahaa...”
“Eh, sadar atau enggak kita butuh banget cermin yaa?”
“Iya lah, mana ada cewek yang enggak butuh cermin. Bahkan sebagian besar cewek selalu bawa cermin kecil di tasnya. Kamu juga kan?”
“Iya,  hehe... Buat tampil oke, ngeliat kekurangan-kekurangan apa aja yang terjadi di area wajah. Terus memperbaikinya dengan make-up yang dibawa.”
“Iya, bener.”

“Maaf ya, kalau aku ikut campur sama masalah kamu, tapi kalau aku biasanya mengibaratkan kritakan orang lain, entah itu baik ataupun buruk, benar ataupun salah kayak cermin. Cermin di hadapan kita ini bisa ngeliat kekurangan wajah kita, kalau lagi kusut, bedaknya ketebalan, lipstiknya agak belepotan, dan sebagainya dan sterusnya. Karena cermin itu kita tahu, karena cermin itu jugalah kita mengerti apa yang harus diperbaiki, manaa yang harus dipoles. Sayangnya, cermin ini hanya bisa meihat kekurangan di area wajah, atau are fisik yang lainna. Tapi enggak bisa melihat kekurangan kita yang nonfisik, seperti keperibadian, sikap, karakter dan sejenisnya. Kita butuh cermin dalam bentuk lain untuk melihatnya. Untuk kemudian, memperbaiki apa yang kurang dari diri kita berdasarkan bayangan dari cermin itu. Dan menurutku itu enggak salah, ketika kita menjadikan orang lain sebagai cermin itu, malah bagus juga demi kebaikan kita kan?”

“Iya ya, kamu bener. Harusnya aku enggak terlalu berlebihan menanggapi kritikan atau permintaan teman-temanku itu. Btw, kamu kok baik banget sih sama aku? Padahal akunya suka nyebelin.”
“Soalnya aku udah tahu pintu surga itu dimana.”
“Dimana emang?”
 “Di setiap kebaikan yang kita lakukan.”
“Haha, mulai keluar deh ustadzahnya, Assalamualaikum ukhtii,,”
“Sial, haha ...”
“Hah, mana boleh salam dijawab dengan sial. Haha..”
“Iya, aku ralat, Waalikumsalam ...”
“Tapi makasih banget ya, buat semuanya ...” tiba-tiba ia memelukku

Memang, masih sulit sekali memberitahukan sahabatku itu tentang agama, tentang harus sholat lima waktu, juga tentang syurga dan neraka. Aku pernah membuat kesalahan dengan berkeinginan untuk mengubahnya menjadi lebih baik agar kita sama-sama bahagia. Dan ternyata itu menyakitkan, yang aku dapat hanya kekecewaan. Harusnya dari dulu aku memiliki keinginan untuk tetap berbahagia bersahabat dengannya, walaupun dia belum bisa berubah. Seperti saat ini.

By : Nazrul Anwar

Rabu, Maret 7

Road Show 8th Eagle Awards


Metro TV melalui program Eagle Awards memberikan sebuah media bagi anak-anak muda yang kreatif untuk kritis terhadap sebuah fakta peristiwa, terhadap sebuah masalah yang sedang terjadi di dalam masyarakat luas agar menjadi sebuah inspirasi perubahan. Sinergisitas antara Eagle Awards dan anak-anak muda menghasilkan cerita inspiratif dari berbagai sudut pandang yang unik dan tegas. Melalui Eagle Awards anak-anak muda diajak untuk peduli dan kritis terhadap keadaan disekitar mereka dan menjadikan mereka para sutradara documenter Indonesia. Dan melalui pemikiran anak-anak muda, Eagle Awards mencoba mengajak masyarakat untuk melihat berbagai potensi bangsa Indonesia yang ada dibalik banyaknya permasalahan yang sedang dihadapi. (Sumber Eagle Awards )

Dan IPB termasuk beruntung loh karena addtional dan sudah 3x Metro TV melakukan Road Show Eagle Awards di IPB,,sebenarnya Metro TV tahun ini hanya melakukan road show di Padang (Kampus Isi Padang Panjang), Palembang (Kampus UNSRI ) dan Makassar (Kampus Univ.Muhammadiyah)

Road Show 8th Eagle Awards di IPB akan dilaksanakan pada tanggal 18 Maret 2012 di Auditorium Andi Hakim Nasution. Yang tertarik dengan film dokumenter so daftar lah,,gampang banget dan it's FREE dengan Comitmen Fee sebesar 10.000 rupiah saja
dan hanya 300 peserta  alias TERBATAS

Caranya kamu kirim sms pendaftaran dengan cara:
Ketik: NAMA_NRP_DEPARTEMEN kirim ke no.08567677907
Atau mw tanya-tanya dulu tentang acaranya lebih lanjut,,kalian bisa sms ke CPnya
yaitu : Fia 085710299828 dan Ayy  08567677907
Tiket bisa diambil tanggal 14 Maret 2012 at @Student Center

 Acara ini merupakan rangkaian dari 5th Journalistic Fair 2012 Kementerian Komunikasi Informasi BEM KM IPB. Selain ada Eagle Awards, masih ada beberapa rangkaian kegiatan lainnya diantaranya IPB Blogging Days, Lomba Journalist (Presenter, video, fotograrfi dll) dan launching Sekolah Jurnalistik.
Saat ini Kementerian Komunikasi dan Informasi juga sedang membuka Open Requitment Panitia,, informasi lebih lanjut kmu bisa hubungi Fia 085710299828 atauCipta 08567890966.


Kamis, Maret 1

Secangkir Coklat Hangat

Ada denting antara genting kamar dan gerimis yang samar-samar terdengar sore ini, menemaniku menyelesaikan pekerjaan kantor yang terpaksa harus kubawa ke rumah karena deadline. Pekerjaan yang sebelumnya tak terbayangkan olehku, pekerjaan yang tak ada hubungannya dengan empat tahunku jatuh bangun mengejar sarjana, dan pekerjaan yang (jujur) aku sendiri masih belum tahu bisa menikmatinya ataupun tidak. Tapi kamarku, tiba-tiba menjadi cerah oleh senyuman perempuan dengan secangkir coklat hangatnya, setelah ketukan pintu lembut khasnya yang sembarangan aku jawab dengan kata ‘masuk’.

“Eh, Mama. Kenapa Ma?”
“Gpp, ini mama bawain coklat?”
“Wuih, asyik. Makasih ya, Ma.” Aku masih meniup-niup coklat yang panas 
“Iya. Masih belum beres ya kerjaannya?” Mama bertanya dengan senyumnya
“Masih banyak banget nih, Ma. Oh ya Ma, aku boleh tanya-tanya?” Tiba-tiba ada ide untuk mengobrol sejenak dengan mama, menghilangkan penat. Mama mulai duduk di tempat tidurku.
“Boleh, mau tanya apa emang?”    

“Ma, emang salah ya, kalau misalkan kita kerja enggak sesuai dengan bidang yang kita dalami ketika kuliah?”

"Mama juga dulu kuliahnya di jurusan apa, sekarang kerjanya di bidang apa. Enggak nyambung. Tapi kalau memang itu adalah sebuah kesalahan, mama minta maaf atas kesalahan yang mama buat. Yang pasti, sekarang mama bahagia dengan pilihan mama, menikmati apa yang mama kerjakan, dan seneng karena pekerjaan mama bisa memberikan banyak manfaat ke orang lain. Dan buat mama, itu sudah lebih dari sekedar cukup. Dulu emang suka kesel sih, kalau ada yang nyindir kok kerjaan mama enggak sesuai dengan bidangnya sih, kok begini sih, kok begitu sih.”

“Terus, dulu cara menghadapinya gimana, Ma?”

“Dengan menerima, Sayang. Bukan dengan mencari pembenaran dengan banyak alasan. Menerima kalau apa yang mereka katakan ada benarnya. Benar juga kan, ngapain mendalami suatu ilmu bertahun-tahun, tapi setelah lulus ilmunya enggak digunakan. Menerima kalau Mama juga ada salahnya. Masa, bertahun-tahun enggak bisa suka juga dengan apa yang mama pelajari. Menerima kalau Allah selalu punya rencana dan ketetapan yang terbaik akan kehidupan kita. Walaupun kadangkala ketetapan itu adalah apa yang bukan kita inginkan dan kita rencanakan. Menerima bahwa ternyata; kebahagiaan, ketentraman, ketenangan hati, jauh lebih berharga dari sekedar kesesuaian antara pekerjaan dan jurusan ketika kuliah, apalagi dari sekedar sindiran orang lain.”

“Hmmm, iya juga ya Ma, ngapain kita harus pusing dengan kata-katanya orang lain, padahal kita yang merasakan, kita juga yang menjalankan. Toh rezeki masing-masing kan sudah diatur ya, Ma.”

“Iya,  dan rezeki itu, bukan apa yang bisa kita nikmati secara fisik aja, Sayang. Bukan juga sekedar tentang penghasilan atau pendapatan. Buat mama, tubuh yang sehat, ilmu yang bermanfaat, punya suami yang memperlakukan mama dengan baik seperti papamu, punya anak secantik dan semenyenangkan kamu, adalah rezeki yang sangat luar biasa.” Aku tersenyum geli, bukan karena kata-kata mama, tapi karena tangan mama yang sudah menarik gemas kedua pipiku, aku segera menyelamatkan diri dengan menjauhkan mukaku dari jangkauan mama.

“Bisa aja kita kerja di perusahaan yang besar, dengan gaji yang besar juga, tapi kalau misalkan pekerjaan itu enggak kita nikmati, terus materi yng kita kumpulkan itu enggak bermanfaat kecuali untuk diri kita sendiri, bahkan materi itu malah semakin menjauhkan kita dengan Allah, bisa dikatakan rezeki kita itu sangat sedikit. Karena sejatinya, rezeki itu adalah sesuatu yang membuat kita semakin bersyukur dan semakin dekat sama Allah.”

“Idih, jawaban mama soleh banget, berasa pengajian nih. Siap, ustadzah.” Baru saja aku mau hormat, mama sudah melemparku dengan bantal. Lalu seperti biasa, kami saling tertawa. Selalu menyenangkan bercanda dengan mama.

“Lanjut lagi dong pengajiannya, Ma. Lagi butuh banyak petuah nih.” Aku tersenyum masih menggoda mama, mama udah males menanggapi sepertinya.

"Mama cerita aja deh. Dulu ya, di zaman rasul itu ada seorang kembang desa yang menikah dengan orang yang tampangnya biasa-biasa saja, pendek, gendut lagi. Suatu ketika, setelah pulang kerja, suaminya tak henti-henti memuji isterinya yang makin hari makin cantik saja. Ah, tentu saja, isteri yang baik akan selalu berusaha tampil secantik mungkin di hadapan suaminya. Menyambut suaminya dengan senyum dan perilaku terbaik sepulang kerja. Tiba-tiba isterinya itu bilang, kalau mereka adalah calon penghuni syurga. Suaminya itu masih bingung, kok bisa? Isterinya berbaik hati menjelaskan; imbalan orang yang bersyukur dan bersabar adalah syurga. Sementara, suaminya sudah bersyukur diberikan isteri seperti dirinya. Dan diapun sudah sangat bersabar diberikan suami seperti itu"

"Ha.. ha.. ha... " kali ini aku ngakak denger ceritanya Mama

"Eh, ketawanya enggak boleh berlebihan gitu, ah." mama mengingatkan, seperti biasa dengan nada dan ekspresi marah sayangnya.

"Habisnya lucu banget sih Ma, Ha.. ha..." aku masih bicara sambil menahan tawa

"Ih, inti ceritanya kan bukan tentang lucunya. Tapi tentang bagaimana kedua orang itu menghadapi rezeki yang Allah berikan kepada mereka, yang satu bersyukur diberikan isteri yang sebegitu cantiknya. Yang satunya lagi bersabar untuk menerima apa yang sudah Allah tetapkan untuknya. Dan rasa syukur dan sabar itu yang membuat mereka hidup berbahagia. Nah, begitulah seharusnya kita melihat rezeki, Sayang. Bukan tentang seberapa banyak yang kita dapatkan. Tapi tentang seberapa banyak yang kita syukuri, tentang seberapa besar penerimaan kita atas apa yang Allah beri, juga tentang sejauh mana hati kita merasa cukup.”

Seketika tawaku benar-benar berhenti. Agak canggung mengangkat secangkir coklat hangat yang tinggal setengahnya. Malu. Begitu banyak yang sudah Allah beri, tapi hatiku tak kunjung merasa cukup. Betapa banyak hal yang tidak aku minta, tapi Allah memberiku begitu saja. Dan aku sering sekali tak menyadarinya. Seperti secangkir coklat hangat ini misalnya, atau perempuan luar biasa yang sedang tersenyum manis di hadapanku ini. Mungkin mama memang benar, kalau ternyata, Allah jauh lebih sayang sama kita daripada diri kita sendiri.

by: Nazrul Anwar

Senin, Februari 27

Kereta

Tak ada yang lebih indah sekaligus berbahaya daripada dunia khayalan. Dunia dimana kita bisa menjadi siapapun yang kita inginkan, dunia dimana kita bisa melakukan apapun yang kita mau. Hanya saja semua itu semu. Dan sore ini aku dihantarkan oleh penatnya pikiran untuk memasukinya, bersamaan dengan senja yang mulai menjingga.

Sedari dulu, aku selalu ingin menikmati apa yang sedang aku lakukan. Tak peduli apakah itu rutinitas ataukah spontanitas. Hanya saja pekerjaanku, yang hampir setiap hari menyita waktu dengan porsi paling banyak dari kegiatan lainnya, tidak termasuk dalam kegiatan yang bisa aku nikmati. Belum bisa mendapatkannya di dunia nyata, akupun tergoda untuk melanglangbuana ke dunia khayalan.

Sayangnya, sebelum aku berkelana lebih dalam lagi ke dunia khayalan, tiba-tiba, seseorang mendekapku halus dari belakang. Membuyarkan lamunanku. Aku tak perlu menengok ke belakang untuk tahu siapa orang itu. Aku sudah tahu sebelum mendengar suaranya. Aku sangat kenal dengan tangan itu, juga dagu yang menempel di pundakku. Dan aku, selalu suka momentum seperti ini. Buatku, tak ada tempat yang lebih nyaman selain dekapan mama.

***

"Lagi mikirin apa sih anak mama yang satu ini, serius amat kayaknya?" mama bertanya dengan nada seolah aku anak kecil saja. Tapi aku selalu suka nada itu.

"Enggak ada kok Ma. Lagi iseng aja."

"Kan mama pernah bilang; enggak harus cerita, tapi enggak boleh bohong. Kalau lagi ada masalah, bilang aja. Kalau enggak mau cerita juga tinggal bilang. Sama mama sendiri ini. Setidaknya mama tahu kalau kamu lagi ada masalah, walaupun kamu enggak mau cerita masalahnya apa. Jadi, mamanya enggak terlalu khawatir."

"Idih, Mama suuzon nih. Kan kata Mama kita enggak boleh suuzon, karena kita enggak pernah tahu pasti apa yang ada di hatinya orang lain." selalu menyenangkan menggoda mama dengan membalikkan kata-katanya.

"Iya deh. Maaf. Kan biasanya kalau kamu banyak diemnya, terus berdiri berlama-lama enggak jelas ngeliatin jalan dari teras lantai atas kayak gini, artinya lagi ada masalah serius bukan?"

"He, he, he... " aku cuma cengengesan, ketangkep basah.
"Mau cerita sama mama?" tanya mama setelah melepas dekapannya, setelah tersenyum manis kepadaku. Aku cuma menagangguk, mengikuti mama yang duduk di kursi teras.

***

"Kenapa?"

"Biasa Ma, masalah kerjaan. Mama kan tahu, kerjaanku sekarang itu cuma batu loncatan untuk mencapai cita-citaku. Aku enggak suka sama kerjaannya. Enggak nyaman juga sama orang-orangnya. Sudah berusaha menikmati segala prosesnya. Sudah melakukan yang terbaik apa yang aku bisa, tapi tetep saja enggak bisa menikmati. Susah. Kayaknya aku mau resign aja deh Ma. Tapi masih belum yakin, sayang aja kalau melewatkan kesempatan yang sudah ada." aku langsung melampiaskan semua apa yang aku rasakan, seperti biasanya mama menjadi pendengar yang baik.

"Oh gitu. Boleh aja kalau mau resign, tapi mau sampai kapan? Seingat Mama, tahun ini saja kamu sudah dua kali ganti-ganti pekerjaan."

"Iya sih Ma, habisnya belum nemu tempat yang cocok sih. Enggak salah kan, kalau aku berusaha mencari yang terbaik, mencari pekerjaan yang bener-bener bisa aku nikmati, bukan hanya pekerjaan yang menghasilkan uang saja?"

"Iya enggak salah juga sih. Tapi buktinya, sekarang kamu masih mencari-cari mana yang terbaik. Mama khawatir aja masalahnya bukan ada di pekerjaannya, tapi ada di kamunya."

"Maksudnya, Ma?"

"Mama jadi inget, dulu, waktu pertama kali mama naik kereta antar kota, yang jaraknya ratusan kilometer, Mama menaiki kereta yang salah. Mama yang baru sadar di tengah perjalanan, langsung kesal sekaligus khawatir. Sama sekali tidak bisa menikmati perjalanan. Seorang Ibu tua yang duduk di samping mama menangkap kegelisahan Mama. Beliau menyapa mama, mengajak ngobrol, dan bertanya kenapa mama nampak gelisah. Mama bilang kalau mama salah naik kereta. Harusnya, mama naik kereta ke arah utara. Tapi mama menaiki kereta yang arahnya ke selatan. Beliau cuma senyum dan bilang, manusia memang bisa salah, tapi Allah tak pernah salah dalam membuat ketetapan atas apa yang terjadi untuk kita, termasuk atas ketetapanNya membuat mama salah naik kereta di pengalaman pertama."

"Katanya lagi, mungkin Allah sengaja membuat mama seperti itu, karena Allah ingin mama melihat dunia lain terlebih dulu, sebelum mama benar-benar menemukan tujuan mama. Akhirnya mama mengerti, dan perjalanan yang salah itu, menjadi salah satu perjalanan yang paling menyenangkan sekaligus berharga dalam kehidupan mama. Mama bisa berkenalan dengan orang baru, bisa menikmati pemandangan dari dalam kereta yang luar biasa indahnya, dan yang paling penting, bisa diberi kesempatan mengerti maksud ketetapan Allah.”

Mama berhenti sejenak, memberikan kesempatan kepadaku untuk mencerna apa yang disampaikannya. Aku yang sedari tadi mendengar dengan sangat khusyu, sudah mulai mengerti arah pembicaraan mama

“Dari situ mama sadar, ternyata menikmati itu pekerjaan hati. Seberapa keraspun tangan kita bekerja, seberapa lelahpun akal kita berfikir, kita tak akan bisa menikmati pekerjaan yang kita lakukan. Karena sekali lagi, menikmati itu adanya di hati. Dan hati enggak bisa dipaksa, Sayang. Hati hanya bisa dikondisikan.”

“Oh, pantesan aku susah banget menikmati, sudah berusaha mati-matian, tetep aja enggak bisa, ternyata salah sasaran toh. Terus gimana dong Ma, caranya mengkondisikan hati, supaya aku bisa menikmati pekerjaanku yang sekarang?” sekali lagi Mama tersenyum manis sebelum menjawab petanyaanku itu

“Dalam hal ini, sebagaimana kita enggak boleh suuzon sama orang lain, kita juga enggak boleh suuzon kepada Allah, karena kita enggak pernah tahu secara pasti apa yang sudah Allah rencanakan buat kehidupan kita. Tapi yang pasti, Allah sudah menyiapkan yang terbaik untuk kehidupan kita. Kita hanya harus menyiapkannya, berusaha dengan sebaik mungkin, disertai doa yang sungguh-sungguh."

"Lalu jika ada keinginan kita tak menjadi nyata, kita hanya harus percaya, kalau Allah lebih tahu mana yang lebih kita butuhkan dari apa yang kita minta. Dan ikhlaskan keinginan yang tak terkabulkan itu agar berubah menjadi pahala. Semoga dengan begitu, perlahan-lahan kamu bisa menikmatinya. Dan hanya orang yang bisa merasakan nikmat Allah lah yang bisa benar-benar bersyukur. Nah, kalau kita sudah bisa bersyukur, sebagaimana yang sudah dijanjikan, Allah juga akan menambah nikmat kita.”

beberapa saat kami saling diam, saling tatap, saling senyum dan saling mengerti tanpa kata lagi. Aku mengangguk berterimakasih. Mama juga mengangguk masih dengan senyumnya.


***

Mama membuatkanku 'rumah' yang sangat nyaman dalam dekapannya. Tapi ia tak pernah memaksaku untuk meninggali rumah yang kusebut dekapan itu selamanya. Ia sangat mengerti, kalau suatu hari akan ada seorang pangeran yang membawa putri kesayangaanya ini pergi meninggalkannya. Hanya saja, akan selalu ada pintu yang terbuka ketika aku ingin pulang kapan saja. Pulang, ke rumah yang ia bangun dengan sedemikian sabarnya. Pulang, ke dekapannya.

by Nazrul Anwar

Stronger (Nice Song)

You know the bed feels warmer
Sleeping here alone
You know I dream in colour
And do the things I want

You think you got the best of me
Think you had the last laugh
Bet you think that everything good is gone
Think you left me broken down
Think that I’d come running back
Baby you don’t know me, cause you’re devil

What doesn’t kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn’t mean I’m lonely when I’m alone
What doesn’t kill you makes a fire
Put that thing on ligher
Doesn’t mean I’m over cause you’r gone

What doesn’t kill you makes you stronger, stronger
Just me, myself and I
What doesn’t kill you makes you stronger
Stand a little taller
 
Doesn’t mean I’m lonely when I’m alone
You heard that I was starting over with someone new
But told you I was moving on over you
You didn’t think that I’d come back
I’d come back swinging
You try to break me

What doesn’t kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn’t mean I’m lonely when I’m alone
What doesn’t kill you makes a fire
Put that thing on lighter
Doesn’t mean I’m over cause you’r gone

What doesn’t kill you makes you stronger, stronger
Just me, myself and I
What doesn’t kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn’t mean I’m lonely when I’m alone

Thanks to you I got a new thing started
Thanks to you I’m not a broken hearted
Thanks to you I’m finally thinking bout me
You know in the end the day to left was just my beginning
In the end…

What doesn’t kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn’t mean I’m lonely when I’m alone
What doesn’t kill you makes a fire
Put that thing on lighter
Doesn’t mean I’m over cause you’r gone

What doesn’t kill you makes you stronger, stronger
Just me, myself and I
What doesn’t kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn’t mean I’m lonely when I’m alone

by : Kely Clarkson
 

Photo edited





by PhotoScape